Ngobrol Tentang Mentoring

Sebelum mulai, aku lebih dulu menentukan batasan masalah pembicaraan ya. *cailah* *serasa bikin thesis, bo*

Mentoring yang dibicarakan di sini adalah mentoring dalam lingkup Kristen, dan prinsip-prinsip ini bukan diperuntukkan bagi orang-orang Kristen di lokasi tertentu aja, melainkan semua orang Kristen yang pengen tau atau terlibat dalam kegiatan ini.

Sekarang aku pengen cerita sedikit tentang apa yang aku lihat selama aku kuliah di UPH. Ada bermacam-macam orang dengan berbagai macam latar belakang yang terlibat dalam mentoring, dan banyak dari mereka punya definisi dan prinsip sendiri-sendiri tentang mentoring ini. Banyak yang bagus, tapi ada juga yang salah dari awal, dan karena itu ending-nya pun ga enak. Apa yang mau aku bicarakan adalah hal-hal yang mendasar banget yang harus dipahami, bahkan sebelum mentoring dimulai. In fact, ini adalah hal wajib yang ga bisa engga, harus dicamkan oleh mereka yang mau bertumbuh secara rohani.

Tuhan Duluan

Sayang sekali, prinsip yang nomer satu dan paling penting ini justru sering diabaikan oleh orang-orang yang mempraktekkan mentoring. Punya mentor bukan syarat untuk memiliki kehidupan rohani yang lebih baik – punya Tuhan adalah syaratnya. Pikirin aja Tuhan, gimana bikin Dia seneng, gimana biar lebih kenal Dia, dan seterusnya. Ga usah pikirin mentoring, cari mentor, dll dll dulu. Tenggelamkan emosi dan pikiran di dalam Dia. Pokoknya apa-apa mah Tuhan aja lah..

Siap Belajar

Semua orang Kristen, umur berapapun dia, seberapapun lamanya dia jadi orang Kristen, sebanyak apapun pengetahuannya, ada ato ga ada “mentor resmi”, harus selalu siap untuk belajar dari sesama anak Tuhan. Banyak orang yang lebih dewasa secara rohani dibanding kita. Kalaupun kita kesulitan menemukan orang-orang seperti itu, toh kita bisa belajar dari berbagai hal dalam hidup sehari-hari. Seperti kata Paulus, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami, yang menjadi teladanmu” (Filipi 3:17). Bukalah hati senantiasa, buat belajar dari orang lain yang dewasa di dalam iman.

Siap Mengajar

Sebenernya ga boleh ada kata “ga siap” waktu ada orang mau belajar dari kita. Setiap orang Kristen punya kewajiban yang sama: “Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12). Kita harus selalu siap. Setiap orang diberi karunia rohani yang beda-beda oleh Tuhan. Ga semua pinter ngomong, ga semua adalah orang yang sangat perhatian pada orang lain. Tapi kita semua, dengan cara masing-masing, wajib jadi teladan buat orang lain.

..Setelah general check-up di atas, aku pengen berbagi apa yang aku pelajari dari pengalamanku. Dalam prakteknya di lapangan, ada anggapan-anggapan yang salah tentang mentoring. Dan moga-moga pembaca ga perlu tick the box salah satu poin di bawah ini. Mentoring bukanlah..

Ajang mencari teman

Harus diakui, banyak kekecewaan terhadap mentoring timbul dari sini, yaitu karena orang-orang ybs menganggap mentor/mentee sebagai sumber kepuasan emosional (jadi temen yang nemenin pergi ke mana-mana, temen ngobrol, tempat curhat, dst dsb dll). Memang mentoring harus merupakan persahabatan juga – mana enak sih punya mentor/mentee yang kaku dan ga asik diajak ngobrol. Tapi bukan itu poin utamanya. Mencari pemenuhan kebutuhan emosional dari mentoring itu salah banget, karena semua orang punya kebutuhan itu – dan baik mentor maupun mentee ga akan bisa memenuhi tuntutan yang super berat itu: menjadi sumber tanpa henti demi menyenangkan kita.

Pemujaan

Mentor bukan orang yang ga punya kekurangan. Agak aneh kalo denger mentee kecewa karena mentornya ga sempurna – tapi begitulah yang sering terjadi. Kita semua manusia dan kita sedang berjalan menuju kesempurnaan di dalam Kristus. Jadi tentu kita ga bisa mendewakan orang lain dan menuntut dia ga pernah berbuat kesalahan. Mendewakan mentor? Salah besar; dan siap-siaplah untuk kecewa.

Syarat untuk pertumbuhan rohani

Ada ato ga ada mentor “resmi” tidak menentukan pertumbuhan rohani kita. Aku kenal orang-orang yang dimentor dengan baik tapi malah ga jadi, dan sebaliknya, orang-orang yang ga punya mentor secara khusus tapi bertumbuh dengan sangat baik. Tuhan tempatkan banyak orang di sekitar kita yang Dia pakai untuk membentuk karakter kita; masalahnya bukan orang-orang itu, tapi apakah kita nempel pada Sumbernya? Ya, syarat pertumbuhan rohani adalah: melekat pada Pokok Anggur itu.

Hal lainnya tentang mentoring bisa dibahas kapan-kapan lah ya. Aku uda beberapa kali nulis tentang mentoring nih, saking hot-nya topik ini di kalangan Spiritual Growth UPH. Haha.. Satu kerinduanku, mereka yang terlibat dalam mentoring jadi orang-orang yang lebih baik dari sebelumnya – bukannya malah kecewa dan mundur. Makanya, pertama-tama, dan sampai kapanpun, Tuhan dulu. Selalu Tuhan yang harus jadi nomer satu.. ●

Catatan: Aku tulis note tentang mentoring di Facebook (uda lama bangett) dan bisa dibaca di sini. Kalo ga bisa akses FB-ku karena belom jadi friend, add ya – dengan kasi message bahwa ybs mau baca note saya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s