Bebas

Aku menunggu dengan lutut yang gemetar. Kedua lututku hampir saling beradu karena rasa takut yang begitu hebat. Kejahatan yang telah kulakukan pasti akan membawaku ke tiang gantungan. Semua bukti memberatkan aku; semua saksi telah dikumpulkan; dan hakim yang akan mengadiliku tidak akan menangguhkan hukuman. Aku telah mendengar orang-orang yang berusaha menyogok dia dengan berbagai hadiah, hanya untuk menemukan bahwa dia tidak bisa disuap. Keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhku. Mulutku terasa pahit dan air mataku hampir menetes. Sial, aku sungguh sial. Aku akan mati sebentar lagi. Aku pasti mati.

Para petugas menarik lenganku dengan kasar untuk memasuki ruangan sidang. Seumur hidupku belum pernah kakiku begitu berat melangkah. Mereka harus menyeretku supaya aku bergerak lebih cepat. Aku menunduk, tidak berani mengangkat kepalaku. Sekilas dari ujung mataku aku melihat jaksa yang akan menuntutku atas segala kejahatan yang aku lakukan. Ia tampak sangat menakutkan! Dan beberapa meter dariku duduk seorang saksi mata yang akan membeberkan seluruh perbuatanku. Ia duduk tenang dan menoleh melihatku. Rasanya aku sudah mati sebelum dihukum mati. Air mata mengucur deras dari mataku, membasahi seluruh wajahku. Aku harus meminta izin pada petugas di sebelahku untuk menghapus keringat dan air mataku sehingga aku bisa mengikuti sidang itu.

Hakim memasuki ruangan dan semua orang berdiri memberi hormat. Aku hampir-hampir tidak bisa berdiri – lututku lemas. Langkah kaki sang hakim yang beradu dengan lapisan kayu di mimbar pengadilan menghunjam jantungku. Setelah ia mengambil tempatnya, kami semua duduk. Aku berdebar-debar menunggu apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh jaksa penuntut. Ia mengambil sebuah dokumen dan memperdengarkan suaranya.

“Terdakwa yang hadir di sini telah melakukan kesalahan sebagai berikut…”

Ia membacakan daftar kesalahanku dan hukum yang telah kulanggar. Aku tidak mendengarkannya. Tepatnya, aku tidak bisa mendengar dia. Telingaku mendengung. Aku memejamkan mata. Keringat mengucur semakin deras. Yang bisa aku tangkap hanyalah kata-kata “bersalah melanggar..” pasal dan ayat sekian, diancam dengan hukuman ini dan itu.

Jaksa itu mengunjungi kamar tahananku beberapa hari yang lalu. Aku sangat terkejut. Ia memberitahuku bahwa aku terancam hukuman mati karena semua kesalahan yang kulakukan. Aku hanya terdiam saat ia berkata demikian. Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan ia katakan:

“Aku akan menanggung hukumanmu.”

Begitu terkejutnya aku, aku hanya terdiam dan tidak tahu apa yang harus kukatakan. Kemudian dia meninggalkan ruanganku dan memberitahuku bahwa sidang akan digelar beberapa hari lagi. Aku belum melihatnya lagi setelah itu. Dan sekarang dia berdiri di hadapanku, membacakan daftar tuntutan hukum terhadapku sampai selesai, menutup dokumennya dan menatapku dengan tajam sambil berkata, “Atas segala kejahatannya, terdakwa dituntut hukuman mati.”

Jantungku serasa berhenti berdetak. Namun jaksa itu melanjutkan kalimatnya.

“Saya telah berkata bahwa saya akan menanggung hukuman anda. Percayakah anda bahwa saya telah melakukan apa yang saya katakan?”

Aku terpana. Sungguh, aku berpikir bahwa dia tidak serius dengan kata-katanya saat ia mengunjungiku beberapa hari yang lalu. Namun kali ini – di tengah sidang pula! – ia bertanya demikian. Jaksa itu, hakim dan saksi serta seluruh audiens menatapku dan aku begitu gugup hingga sulit berkata-kata. Seribu satu hal berkecamuk dalam otakku – namun akhirnya aku bisa mengumpulkan keberanian untuk berkata,

“Ya, pak, saya percaya. Saya tidak tahu lagi harus percaya kepada siapa selain bapak.”

Aku merasakan air mata membasahi pipiku sementara aku mengucapkan kalimat itu. Dia adalah jaksa yang menuntutku, namun aku menggantungkan seluruh hidupku pada belas kasihannya. Di sinilah aku, menempatkan diriku sebagai bahan lelucon. Bisa saja dia menertawakanku dan berkata bahwa dia tidak sungguh-sungguh, bahwa aku bodoh karena aku percaya. Namun hidupku tinggal hitungan hari dan aku tidak punya harapan lagi. Aku hanya bisa berharap bahwa apa yang dia katakan adalah kebenaran.

Sang jaksa tidak berkata apa-apa dan hanya menatapku. Ia kembali ke tempat duduknya dan hakim mempersilakan saksi naik ke podium untuk meyakinkan keabsahan laporan kejahatanku. Dia adalah orang yang menyaksikan aku berbuat kejahatan, dan kata-katanya sah untuk membawaku ke tiang gantungan. Aku menunduk, lagi-lagi dalam ketakutan, menunggu kata-kata terucap dari bibir sang saksi itu. Ia mengatur mikrofon, lalu aku mendengar suaranya.

“Terdakwa… tidak bersalah.”

Tidak bersalah..?

Sungguh aku tidak bisa menggambarkan apa yang aku rasakan. Aku mengangkat kepalaku dalam kekagetan yang amat sangat dan memandang saksi itu. Dia menatapku dengan penuh percaya diri dan mengalihkan wajahnya pada hakim sembari mengulang kata-katanya, “Ya, terdakwa tidak bersalah.”

Mulutku menganga. Aku tidak percaya ini! Aku tidak bersalah? Jelas-jelas ia menyaksikan aku berbuat segala kejahatan yang dituduhkan! Namun hakim pun mengangguk menerima kesaksiannya, dan jaksa tidak berkata apa-apa mendengar kata-kata saksi itu dan hanya menulis kesaksian itu di sebuah catatan. Aku tidak mengerti!

Hakim bertanya pada jaksa, “Adakah tuduhan terhadap terdakwa ini?” Jaksa menatap mataku – aku sungguh tidak siap untuk kejutan berikutnya. Ia berkata,

“Tidak, Yang Mulia. Tidak ada tuduhan terhadap terdakwa.”

Rasanya aku akan pingsan. Tidak ada tuduhan? Aku tidak dapat mempercayai pendengaranku. Kembali jantungku berdebar-debar, namun kali ini sungguh karena terkejut, bukan lagi takut. Aku tidak mengerti – aku sungguh tidak mengerti. Hakim hanya menulis catatan tentang aku berdasarkan kata-kata jaksa, lalu ia memandangku dan berkata, “Terdakwa silakan berdiri.”

Susah payah aku menegakkan tubuhku karena lututku terasa sangat lemas. Akhirnya aku berdiri di tengah pengadilan itu. Aku menelan ludah sebelum mendengar kata-kata hakim.

“Tidak ada tuntutan terhadap kamu. Kamu bebas.”

Sejenak pikiranku kosong. Aku bebas. Aku bebas! Tapi mengapa?? Dengan suara tercekat, aku memberanikan diri bertanya pada sang hakim, “Yang Mulia,” ujarku lirih, “..tetapi.. bagaimana bisa..?

“Seperti yang telah dikatakan jaksa,” ujar hakim, “dia telah menanggung hukumanmu. Dan kamu hanya perlu percaya itu. Kamu bebas.”

Ini adalah dramatisasi dari Roma 8:31-39. Silakan baca surat yang indah yang ditulis Paulus kepada jemaat di Roma tentang jaminan keselamatan mereka di dalam Yesus Kristus. Dan terdakwa itu..? Ya, dia adalah saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s