Rencana Yang Sempurna

Boas menggenggam erat jemari Rut, wanita yang sekarang telah menjadi isterinya. Wajahnya memancarkan kelelahan, namun juga kebahagiaan. Ia tidak hentinya tersenyum sepanjang hari dan menyambut tamu yang datang dalam pesta pernikahan mereka. Sesekali Rut menyeka peluh di pelipis suaminya, dan Boas selalu menyambut pelayanan isterinya itu dengan senyuman. Menjelang malam, mereka masih membuka rumah untuk tamu-tamu yang terus berdatangan. Boas adalah orang yang kaya, dan ia dengan murah hati mengadakan pesta yang terbuka bagi semua orang di Betlehem yang mengenalnya.

“Boas,” ujar Yosua, seorang teman baiknya, “coba ceritakan pada kami bagaimana kalian bisa saling jatuh cinta.” Tawa para tamu pecah di ruangan itu, dan bersamaan dengan itu teriakan setuju dari mereka. Boas dan Rut ikut tertawa, bahkan Rut menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu.

“Sungguh, kalian ingin dengar?” sahut Boas. Para tamu bertepuk tangan riuh sebagai jawabannya. “Baiklah, baiklah,” ujar sang pengantin pria dengan bersemangat.

“Kalian semua tahu bahwa Rut datang dari tanah Moab.” Moab adalah bangsa asing, yang pernah menjadi musuh besar bangsa Israel. Dan memang mereka tahu bahwa Rut adalah keturunan Moab. Boas tersenyum dan melanjutkan, “Ya, kalian tahu bahwa Rut berasal dari sana. Dan aku bangga dengan kenyataan itu. Aku bangga bahwa Tuhan memberiku seorang isteri yang lebih mencintai Allah dibanding tanah kelahirannya dan keluarganya di sana.

“Aku harus jujur, aku sangat tertarik – dan mungkin jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku melihatnya bekerja di ladang. Aku belum pernah melihat wanita bekerja serajin itu; dan wanita ini sungguh mengesankan di hatiku. Lalu saat aku bertanya pada para pegawaiku tentang siapa dia, mereka memberitahuku bahwa ia meninggalkan tanah air dan ilah-ilahnya untuk menyertai Naomi ke Betlehem dan menjaganya di sini. Bahkan ia beribadah pada Allah kita.

“Apabila aku harus memilih seorang wanita untuk menjadi isteri, aku tidak akan mencari wanita lain, karena dialah wanita terbaik yang pernah kukenal. Di mana lagi aku bisa menemukan seorang wanita yang begitu mengasihi Allah dan begitu berbakti pada orang tuanya?” ujar Boas mesra sambil memandang pengantinnya. Rut tersenyum malu di balik cadarnya.

Para tamu bertepuk tangan riuh. “Kisah yang luar biasa!” seru Abia, teman Boas yang lain. “Kami tahu bahwa biasanya pengantin wanita tidak berkata apa-apa sepanjang pesta, namun kami ingin mendengar dari Rut.” Kata-katanya disambu persetujuan para tamu. “Ceritakan kisahmu, Rut,” ujar mereka dengan antusias.

Rut memandang suaminya, meminta persetujuan untuk berbicara. Boas menjawabnya dengan tatapan lembut sambil mengangguk. Sang pengantin wanita tersenyum pada para tamu. “Terima kasih, aku merasa terhormat kalian mau mendengar kisahku,” ujarnya sopan. Para tamu bertepuk tangan dengan gembira. Rut meneruskan ceritanya.

“Aku mencintai Allah, seperti kalian mencintai Dia. Sejak ibu mertua mengajariku tentang kehidupan orang Israel, aku telah memutuskan untuk mengikuti ajarannya dan beribadah kepada Yahwe,” ujar Rut sambil tersenyum. Para tamu memandangnya dengan tatapan kagum – mereka tidak menyangka seorang wanita muda dari Moab akan berkata demikian. “Dan aku bersyukur pada Allah karena Dia mempertemukan aku dengan Boas di sini. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk meminta seorang suami lagi pada Allah, karena sepertinya hal itu tidak mungkin. Namun Ia memberikan lebih dari yang aku harapkan, lebih dari yang bisa aku pikirkan.” Suaranya tecekat pada akhir kalimatnya dan matanya berkaca-kaca.

“Boas adalah anugerah bagiku. Dan aku hanya bisa berkata, aku bersyukur dengan segenap hatiku pada Allah Israel karena telah memberi dia untukku. Dia pria yang baik, bertanggung jawab dan dia mencintaiku. Aku rasa tidak ada hal lain yang dibutuhkan seorang wanita dari seorang pria.”

Rut tersenyum malu mengakhiri ceritanya. Boas merangkul isterinya tersebut sambil tertawa. Para tamu kembali bertepuk tangan riuh. Beberapa wanita bahkan menyeka air mata mereka. Para pria mengangguk-angguk dengan penuh kesan.

“Katakan pada kami, Boas,” ujar Natan, salah seorang teman Boas yang lain, “apa jawabanmu bila anak kalian kelak bertanya tentang bagaimana kalian bertemu?”

Sejenak Boas terdiam. Lalu setelah menghela nafas, ia berkata, “Aku rasa aku akan berkata pada anak kami bahwa, justru di saat kami tidak berpikir untuk mencari pasangan, Allah mempertemukan kami.” Boas memandang isterinya dengan tatapan lembut dan melanjutkan kalimatnya, “Seorang isteri adalah anugerah Allah. Dan Dia memberiku anugerah itu bukan ketika aku mencari anugerahNya, tetapi mencari Dia.”

Boas dan Rut punya anak yang mereka beri nama Obed. Obed adalah kakek Daud, dan Daud adalah nenek moyang Yusuf dan Maria, orang tua Yesus. Sungguh ajaib apa yang bisa Tuhan lakukan lewat orang-orang yang mengasihi Dia. Ga salah kalo Alkitab bilang bahwa rencanaNya sempurna.

NB: Cerita ini adalah dramatisasi dari kisah Boas dan Rut yang ada di Alkitab dalam kitab Rut. Monggo dibaca; ceritanya indah sekali.🙂

NB 2: Plot twist (beneran): Ketika Boas dan Rut menikah, kemungkinan besar Boas sudah berusia 80-an tahun dan Rut mungkin baru 25-30 tahun. Boas adalah anak Rahab, perempuan Kanaan yang diselamatkan ketika Yerikho dihancurkan Israel; kemungkinan dia seangkatan dengan Elimelekh, suami Naomi. Inti cerita ini sebenarnya bukan kisah romantis mereka berdua, tapi bagaimana Tuhan mewujudkan rencana-Nya in the most unthinkable way. Kalau pembaca sempat membayangkan Boas adalah pemuda gagah, ganteng, kaya, cinta Tuhan, jangan kecil hati, hampir semuanya benar kecuali bagian “pemuda”. Hehehe.

5 thoughts on “Rencana Yang Sempurna

  1. Glory, it’s really beautiful and I definitely agree with what you wrote there —> Sejenak Boas terdiam. Lalu setelah menghela nafas, ia berkata, “Aku rasa aku akan berkata pada anak kami bahwa, justru di saat kami tidak berpikir untuk mencari pasangan, Allah mempertemukan kami.” Boas memandang isterinya dengan tatapan lembut dan melanjutkan kalimatnya, “Seorang isteri adalah anugerah Allah. Dan Dia memberiku anugerah itu bukan ketika aku mencari anugerahNya, tetapi mencari Dia.”

    Have a blessed day!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s