Hari Yang Buruk?

Liburan Natal & tahun baru yang lalu sangat menyenangkan buat aku. Itu bener-bener waktu buat kontemplasi, memikirkan banyak hal dan belajar dari banyak orang. Aku menikmati banget semua prosesnya. Aku suka tinggal di Pekalongan, betah sebetah-betahnya. Dan liburan ditutup dengan kunjungan dari 2 sahabat; kami wisata kuliner sampe ke Semarang. Ajep lah! Seneng banget pokoknya.

Kemarin siang aku sampe di Jakarta, disambut oleh traffic – biasa. Mulailah kehidupan yang jauh beda dengan waktu liburan. Sepi, berasa sendirian, tugas numpuk, komputer ga ada (beberapa hari lalu rumahku kemalingan dan komputerku diambil maling itu. Ckck). Mendadak kerasa banget tegangnya dan aku jadi serba sebel sendiri.

Belum cukup itu. Waktu kemaren sore kuliah, aku awalnya bersemangat karena aku pikir ini mata kuliah yang menyenangkan. Pemikiranku ga salah: mata kuliah ini bisa jadi menyenangkan, tapi aku merasa sangat ga cocok sama dosennya. Dan tiba-tiba hidup rasanya ga menyenangkan lagi. Aku pengen pulang ke Pekalongan dan hidup seperti yang aku suka (aku bukannya males-malesan di Pekalongan; cuma aku suka banget kehidupan teratur seperti di sana). Sepanjang jalan pulang dari kampus, setelah tiga setengah jam yang paling membosankan selama aku kuliah, aku mikir mo drop out dari kampus dan balik ke rumah aja. Ya, ya, emang pikiran yang kekanak-kanakan. Untungnya cuma sebatas pikiran.

Pelan-pelan, waktu akal sehat uda kembali, aku mulai mikir lebih jernih. Aku inget kemaren di kampus, teman-teman sekelas menyapa aku waktu aku dateng, ada yg bela-belain perpanjang waktu peminjaman buku biar aku bisa pinjem bukunya, ada yang bayarin aku fotokopi silabus, … Aku jadi merasa ga tau terima kasih sama Tuhan.

Seringkali waktu kita merasa lagi mengalami ‘hari yang buruk’, kita terlalu fokus kepada diri sendiri dan jadi ga bisa memperhatikan hal-hal, atau orang-orang di sekeliling kita. Waktu orang berbuat baik pada kita, melakukan pengorbanan buat kita, kita ga peduli dan tetep cuma mikirin betapa keselnya kita. Dan seringnya, sikap kita juga jadi menyebalkan; akhirnya kita malah menyakiti orang-orang yang berbuat baik pada kita. Loh, kita malah menularkan suasana hati yang buruk ke orang lain!

Manusia tu emang maunya dimengerti. Tapi tahap menuju kedewasaan salah satunya adalah memahami bahwa ga mungkin kita terus-terusan minta orang mengerti kita; kita harus jadi bos atas emosi kita sendiri, dan bukannya dikontrol oleh kemarahan, rasa bete, kesedihan, dll dsb. Kalo engga, yang ada justru kita menyakiti orang terus-terusan. Ngapain deket sama orang yang terus-terusan nyakitin perasaan orang?

Sekali lagi aku belajar hal itu. Aku nyesel banget kemaren ga menghargai hal-hal kecil yang orang lakukan karena mereka peduli sama aku. Mulai hari ini, waktunya berubah. Seberapapun jengkelnya, seberapapun betenya, jangan sampe aku jadi orang yang menyakiti orang lain cuma karena ego. Aku ga mau jadi virus, orang yang bikin orang lain mengalami hari yang buruk. Makasih, Tuhan, buat pelajaran yang berharga ini..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s