Apa Tuhan Tidak Adil?

Aku baca sebuah ayat yang cukup mengejutkan di kitab Amsal. Dan rasa-rasanya ayat yang (buat aku) cukup kontroversial ini berpotensi jadi sumber perdebatan. Dulu aku sempat kepikir juga, apakah bener Tuhan ga adil karena Dia menghukum sebagian orang dan berbuat baik pada sebagian orang lain. Seiring berjalannya waktu, tentu pemikiranku berkembang. Tapi ada baiknya lah di-review lagi. Berikut ini ayatnya:

TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka. -Amsal 16:4

Menurut ayat ini, ada orang yang khusus diciptakan untuk dibinasakan – kurang lebih begitu. Sial banget mereka; mendingan ga usah lahir aja sekalian! Atau engga? Apa sebenernya yang tersembunyi di balik ayat ini? Walaupun aku belum punya jawaban yang sempurna, kita coba liat aja.

Yang pertama, orang Israel punya konsep yang unik tentang Tuhan. Dan mengingat penulis kitab Amsal adalah orang Israel juga, ada baiknya kita ngerti sedikit konsep ini. Bagi orang Israel, keterlibatan Tuhan dalam segala sesuatu begitu nyata, sehingga seolah-olah Tuhan yang menyebabkan orang melakukan tindakan, atau bahkan Tuhan sendiri yang melakukan tindakan itu. Aku ambil contoh beberapa ayat yang ga kalah sulitnya dibanding Amsal 16 tadi.

Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga (Firaun) tidak mau membiarkan orang Israel pergi. -Keluaran 10:20

Bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firmanNya: “Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.” -2 Samuel 24:1

Pada kenyataannya pasti Firaunlah yang mengeraskan hati; jadi bukannya Tuhan bisikin dia supaya ga memberi izin orang Israel pergi; tapi ayat dalam kitab Keluaran itu ditulis seolah-olah Tuhan yang menyebabkannya. Juga dalam 2 Samuel 24:1, seolah-olah Tuhanlah yang menyebabkan Daud berbuat salah. Kalau kita ga ngerti konsep orang Israel dalam hal ini, kita akan membaca ayat-ayat itu dalam pengertian kita sekarang: siapa yang salah, ya dia yang dihukum – termasuk provokator. Tapi itu akan menyebabkan kita melimpahkan kesalahan manusia kepada Tuhan, seolah-olah Tuhan yang berbuat salah; padahal kitalah yang mengambil keputusan untuk berbuat salah.

Tuhan tau segala hal; tapi Dia memberi kita kebebasan untuk memilih; jadi konsekuensi pilihan tindakan itu adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawabNya. Aneh kan, kalo kita yang berbuat salah, terus kita bilang, “Tuhan, Kamu yang salah, karena Kamu yang bikin aku berbuat ini!” Tuhan bisa aja jawab, “Ih, orang kamu yang berbuat, kok Aku yang disalahin?” Bahkan kalo kita diberi kebebasan untuk memilih dan kita memilih yang salah, itu bikin tanggung jawab kita makin berat.

Berikutnya adalah tentang orang fasik. Siapa yang disebut fasik? Orang fasik adalah orang-orang yang dengan sengaja menentang Allah. Walaupun mereka tau apa yang mereka lakukan salah, toh mereka lakukan juga atas dasar pemberontakan terhadap Tuhan. Sepanjang kitab Amsal kita akan melihat bahwa yang namanya orang fasik itu orang yang jahat; yang tega menyakiti sesamanya demi kepentingannya sendiri, yang berbuat tidak adil dan yang berontak terhadap Tuhan. Aku rasa orang seperti ini ga akan mau kalo disuruh tunduk pada Tuhan dan mohon ampun pada Dia; jadi buat apa juga dia selamat (baca: bersama dengan Tuhan selama-lamanya)? Dia sendiri memilih buat berontak dan menentang Tuhan, kok.

Tapi siapa orang yang diberi gelar seperti itu? Apa aku? Apa pembaca? Jawabannya adalah: ga ada yang tau. Karena itu, ayat ini bukan merupakan wujud ketidakadilan Tuhan; justru ini merupakan peringatan bagi kita supaya kita jangan jadi orang fasik.

Waktu baca Amsal 16:4 itu, aku keinget sebuah bacaan di bagian lain dalam Alkitab, yaitu 2 Petrus 3:9. Waktu buka bagian itu, aku jadi baca satu pasal (pasal 3-nya), dan aku malah menemukan hal yang menarik sekali di situ. Aku ambil dari ayat 3 sampai 15. Coba ditengok, gan…

Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.
Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup, yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.
Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.

Bagian yang di-bold adalah ayat 9, yang segera muncul dalam pikiranku setiap kali aku denger frasa “hari penghakiman” atau “hari Tuhan”. “Tuhan,” tulis Petrus, “tidak menghendaki seorangpun binasa; melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Yesus memberikan nyawaNya bukan cuma buat orang yang baik-baik saja, yang lumayan lurus kelakuannya; tapi juga bagi orang jahat, sampah masyarakat, orang-orang yang menyallibkan Dia dan terang-terangan menentang Dia. Allah mengasihi semua orang; salib Kristus adalah buktinya. Salib itu juga adalah lambang keadilan Allah. Kejahatan tetap harus diganjar hukuman; tapi karena Allah ga mau kita dihukum, maka Kristus yang menanggung hukuman bagi kita. Di dalam Kristus, ada pengampunan dan pemulihan. Dan Allah itu adil: semua orang akan dituntut pertanggungjawaban finalnya hanya setelah hidupnya berakhir. Sejahat-jahatnya manusia, Tuhan memberi mereka semua kesempatan untuk berbalik dan bertobat selama masih hidup.

Walaupun begitu, akan ada waktunya kesempatan itu berakhir. Hari penghakiman akan datang. Karena itu Petrus bilang pada kita, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat.” Kalo hari ini ada di antara kita yang merasa hidup kita fasik, menentang Tuhan, undangan untuk bertobat dan berbalik kepada Dia masih tersedia. Dia menghendaki supaya tidak ada yang binasa – termasuk Anda dan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s