Saya Tidak Tahu

Catatan: Tulisan ini bukan dimaksudkan supaya siapapun “beriman buta” pada Tuhan tanpa usaha mengenal Tuhan dan kehendakNya. Sebelum aku tulis ini, aku mengalami banyak peristiwa dan belajar banyak dari Firman Tuhan, serta minta pimpinan Tuhan dan menguji hatiku sendiri. Tulisan ini bukan teori, tapi sebuah kesimpulan yang timbul dari ujian-ujian kesaksian hidupku. Tulisan ini juga bukan Firman Tuhan; boleh dijadikan referensi tapi jangan dijadikan sumber kebenaran.

Sering banget ketika aku kasi info ke orang bahwa aku lagi kuliah teologi, orang ybs bilang, “Wah, mau jadi pendeta ya?” Dan aku selalu jawab dengan seulas senyum. Hari ini mau bikin pers conference ah, biar sekali jawab tuntas! Hahahahah.

Sejujurnya, aku ga tau nanti mau jadi apa – kalo yang dimaksud dalam pertanyaan itu adalah tentang cita-cita seperti jaman TK dulu kalo ditanya, “Nanti gede mau jadi apaa?” Ya, jawabanku masih sama seperti dari jaman TK dulu: “Aku ga tau.” Aku ga pernah mikir tentang profesi, dan sering bingung kalo ditanya ttg pekerjaan sekarang. Pada dasarnya ya aku kerjakan apa aja yang bisa dikerjakan buat dapet duit – asal halal. Dan judul profesinya, buat aku, ga penting.

Dalam bidang yang lagi aku jajaki sekarang, yaitu pergerejaan, aku juga ga punya cita-cita. Harus diakui bahwa aku sempat kepikir seandainya aku jadi pendeta pun aku mau jadi pendeta yang begini dan begitu; tapi baru beberapa hari yang lalu Tuhan tantang aku buat tinggalin semua keinginan itu – dan lagi-lagi aku ga punya cita-cita. Hahahah. Jadi ya setiap kali aku ditanya, “Kenapa sekolah Alkitab?” atau “Mau jadi pendeta ya?” aku cuma jawab, “Yaah, ilmunya kan nanti pasti bisa dipakai buat melayani…” sambil nyengir.

Bagian ini akan cukup sulit dipahami oleh akal manusia; jangankan pembaca, aku yang mengalami sendiri aja ga pernah bisa cukup mengerti gimana kejadian sesungguhnya secara teknis – tapi ya ini kesaksianku. Tuhan panggil aku buat melayani Dia dalam bidang gerejawi. So far aku cukup yakin bahwa wadahnya adalah gereja; nantinya kalo ternyata lebih spesifik lagi, yaaah, kita liat aja. Tapi aku ga ngerti apa profesinya. Dengan kata lain, aku belum punya rencana yang pasti buat hidupku di masa depan.

Sebenernya aku orangnya pemikir dan cukup lama juga aku kuatir tentang hidupku sendiri kalo aku ikutin panggilan itu. Aku ga punya jaminan masa depan; aku ga tau gimana aku bisa bertahan hidup, bersenang-senang, dll. Tapi justru waktu aku, dengan anugerah Tuhan, lepasin semua pemikiran tentang masa depan itu, aku dipenuhi damai sejahtera. Tadi aku sudah bilang, aku sendiri kesulitan buat jelasin secara teknis kejadian ini. Tapi begitulah adanya. Itu semua melampaui logikaku. Dan kenyataannya, itu terjadi.

Dengan anugerah Tuhan, sekarang ini setiap kali aku mikir tentang masa depan, aku malah merasa sangat aman dan optimis. Aku ga punya rencana spesifik, ga ada ambisi khusus, ga ada gol istimewa (btw aku emang orangnya kurang cocok sama goal-setting; jarang berhasil, entah kenapa. Ckck). Tapi dalam keadaan seperti itu, aku seperti Abraham yang dipanggil keluar dari tanah nenek moyangnya buat masuk ke daerah yang belum pernah dia lihat. Yang ada bukannya rasa takut, tapi excitement yang menyenangkan!

Selama beberapa tahun terakhir, aku selalu mendapati Tuhan tempatin aku persis di mana aku dibutuhkan, dan aku menikmati keadaan itu. Jadi tahun inipun aku yakin hal yang sama akan terjadi. Kalo ada orang yang tanya lagi tentang masa depanku, aku bisa jawab dengan tenang, “Saya tidak tahu.” Dan memberi sedikit tambahan, “Tapi semua sudah diatur oleh Tuhan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s