Ditemukan

Aku bergegas menuju jalan raya. Belum pernah, selama bertahun-tahun, kota Yerikho seramai ini. Dan belum pernah aku keluar dari rumahku tanpa dicibir orang – tapi kali ini mereka semua sibuk berebut melihat Rabi yang terkenal itu dan tidak mempedulikanku. Rabi Yesus dari Galilea akan melewati Yerikho dalam perjalanannya menuju Yerusalem, dan tidak ada yang mau ketinggalan peristiwa fenomenal ini! Begitu penasarannya warga kota dengan Yesus, mereka tidak peduli matahari yang bersinar lebih terik dari biasanya. Tapi akupun tak peduli! Ini kesempatan bagiku untuk melihatnya.

Sambil berlari kecil sembari berusaha mendahului kerumunan orang dan dengan nafas terengah-engah, aku teringat semua yang telah kudengar tentang Rabi ini. Kata orang, salah satu muridnya adalah bekas pemungut cukai. Dan Rabi ini mau bertemu dan makan bersama orang-orang berdosa sepertiku. Aku sungguh heran; belum pernah kutemui seorang saleh yang seperti itu! Karena itu aku harus melihatnya; melihat rupanya dengan mata kepalaku sendiri. Setelah itu aku akan puas..

Sial bagiku, pandanganku terhalang orang-orang di sekitarku. Begitu banyak orang, mungkin ratusan – oh tidak, ribuan! – dan tidak ada satupun di antara mereka yang mau memberi tempat untuk aku dapat melihat Yesus. “Permisi,” ujarku, namun hanya tatapan sinis yang kudapat. Aku mengerti, karena semua orang di Yerikho tentu membenciku. Untungnya, ketika aku melayangkan pandanganku, aku melihat sebuah pohon ara yang sepertinya mudah dipanjat. Segera aku meninggalkan kerumunan dan berlari ke arah pohon itu.

Dengan sisa-sisa tenagaku, aku berusaha memanjat. Aku harus melihat Yesus – harus! Ini satu-satunya kesempatanku melihat dia yang katanya membawa pengharapan bagi orang-orang yang dibenci masyarakat, seperti aku. Setelah bersusah payah, aku akhirnya sampai di salah satu dahan yang kokoh. Seharusnya Yesus akan lewat di bawah dahan ini, dan aku bisa melihatnya.

Benarlah, dia lewat! Namun… Dia melambatkan langkahnya?? Dan lalu dia menoleh ke atas, menatap persis kepadaku!

“Zakheus, turunlah,” ujarnya. Dengan seulas senyum ia melanjutkan, “Aku harus menumpang di rumahmu.”

Rasanya aku nyaris melompat turun dari pohon itu bila aku tidak ingat ketinggiannya. Rabi Yesus mau menumpang di rumah seorang pemungut cukai?? Tak bisa kupercaya!! Aku bergegas turun dari pohon; beberapa kali aku nyaris terpeleset karena buru-buru! Dan dengan semangat yang menyala aku mendekati dia dan, sambil terengah-engah, aku mengucapkan kalimat yang tidak pernah kupikir akan keluar dari mulutku, “Mari, Rabi, aku tunjukkan jalan ke rumah.” Aku tidak bisa menahan kegembiraanku!

Aku tahu bahwa sepanjang jalan orang-orang terheran-heran dan menggerutu karena Yesus mampir di rumahku. “Rabi besar itu menumpang di rumah si cebol,” kata yang satu. “Aku tak percaya Rabi itu begitu bodoh! Apa dia tidak tahu siapa Zakheus?” kata yang lain. Tapi aku menulikan telingaku dan meneruskan langkahku cepat-cepat hingga ke rumah. Tanpa terasa, air mata mengalir di pipiku. Ya, aku tahu aku orang berdosa; aku tidak layak menerima orang saleh dalam rumahku, apalagi Rabi ini; tapi aku sangat bersyukur bahwa dia mau mampir. Dia bahkan menyebut namaku! Aku tidak tahu dari mana dia tahu namaku atau bagaimana dia bisa tahu aku ada di atas pohon; tapi ini yang aku tahu: aku mau menerima kehadirannya – atau tepatnya, dia mau menerima kehadiranku.

Sesampainya di depan rumah, aku segera menyuruh orang rumah menyediakan hidangan terbaik dan air pembasuh untuk sang Rabi dan murid-muridnya. Orang-orang bertambah ribut karena rabi itu masuk ke rumahku. Dan sementara menunggu makanan matang, aku tak tahan lagi. Aku berdiri dan berseru demikian keras di hadapan Yesus hingga semua yang ada di sekitar rumahku terdiam.

“Tuhan..!” Dan air mata kembali mengembang di pelupuk mataku. Aku berusaha sekuat mungkin menguasai diri sebelum melanjutkan.

“Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan pada orang miskin.”

Tenggorokanku tercekat sesaat. Namun dengan penuh keyakinan aku melanjutkan, “Dan jika aku pernah memeras seseorang, aku akan kembalikan..”

Hukum Yahudi mewajibkan pemeras mengganti uang orang yang diperasnya dua kali lipat. Tapi hari itu aku begitu haru dalam ucapan syukur, sehingga dengan penuh sukacita aku berseru kembali, “Aku akan kembalikan empat kali lipat!”

Semua orang terdiam. Suasana mendadak sunyi. Aku, Zakheus, orang yang hidup dari pemerasan, jatuh miskin hari ini karena sumpahku itu. Namun aku justru begitu bahagia – belum pernah aku sebahagia ini! Dan dengan mata yang basah karena air mata, aku melihat Yesus tersenyum lebar – dan diapun hampir-hampir menangis juga! – lalu ia berseru..

“Hari ini telah terjadi keselamatan pada rumah ini! Sebab orang inipun,” katanya sambil merangkul bahuku, “adalah anak Abraham.”

Anak Abraham! Aku tidak tahu apakah aku masih pantas disebut sebagai bagian dari keturunan Abraham. Namun kata-katanya barusan seperti siraman air yang sejuk di hatiku yang kering. Aku merasa diampuni. Ya, semua beban berat di hatiku telah diangkat.

“Sebab,” kata Yesus lagi dengan penuh wibawa, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang.”

Lagi-lagi dia memandangku dengan tatapan seorang sahabat. Aku baru bertemu dengannya hari ini, namun aku seperti pulang ke rumah yang belum pernah aku datangi – rumahku yang sebenarnya. Aku tersungkur di hadapannya dan menangis sejadi-jadinya. Ia memelukku dengan hangat. Aku tahu bahwa orang ini bukan manusia biasa. Ia dikirim oleh Allah, khusus untukku. Allah tahu aku membutuhkannya. Dan dia menemukanku. Aku yang tersesat ini telah ditemukan dan diampuni. Terima kasih, Allahku. Sungguh, terima kasih.

Aku suka sekali cerita Alkitab tentang Zakheus. Dan sementara aku tulis post ini, berkali-kali aku harus hapus air mata karena aku juga sama seperti Zakheus: ditemukan oleh Sang Juruselamat. Moga-moga cerita ini jadi berkat buat pembaca juga🙂 Merry Christmas, everyone.. Anak Manusia, Yesus Kristus, datang utk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. Berilah dirimu ditemukan oleh Dia di natal ini.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s