13 Tahun Yang Berharga

Yusuf ga ngarang-ngarang mimpi. Dia bukan mempunyai mimpi – seperti yang dibilang banyak orang; dia diberi mimpi oleh Tuhan. Dan mimpi itu hancur berkeping-keping ketika pada suatu hari kakak-kakaknya, dengan tatapan penuh kebencian, menghajar dia dan melemparkannya ke dalam sebuah sumur kering.

Tahun-tahun berikutnya tidak makin baik. Dia meratap ketika dibawa pergi oleh kafilah keturunan Ismael setelah dijual sebagai budak. Lalu, mungkin karena perawakannya yang baik, dia dibeli oleh kepala pasukan istana, Potifar. Yusuf belum mengerti apa yang sedang terjadi. Dari keluarga pengembara, anak kesayangan ayahnya, ia terdampar di negeri terkuat di dunia kala itu dan tidak ada harapan ia akan bertemu keluarganya lagi.

Pemuda yang dulu memimpikan matahari, bulan dan 11 bintang sujud menyembahnya, sekarang hanya sekedar memimpikan kehidupan yang layak. Dan kalau bisa, dia sungguh ingin pulang. Sementara itu, dalam malam-malam penuh air mata karena kerinduannya akan rumah, ia hanya bisa berseru pada Tuhan yang disembah ayahnya. Tuhan itulah sahabatnya. Yusuf belajar untuk menggantungkan seluruh harapannya pada Tuhan.

Namun mimpi buruk kembali datang ketika nyonya Potifar menggodanya. Yusuf yang telah cukup dewasa, mengikuti jalan yang ditempuh ayahnya untuk tidak berbuat hal yang jahat di mata Tuhan. Tapi justru karena itu ia makin sial: malah ia masuk penjara.

Kembali Yusuf menangis. Dan dia punya seribu alasan untuk kecewa pada Tuhan: dia begitu taat pada Tuhan dan menjaga moralnya, tapi justru kesialan menimpanya! Walau begitu, Yusuf tidak menyalahkan Tuhan; dan dia telah memutuskan bahwa hanya Tuhan yang layak menerima kesetiaannya. Ketika sipir penjara membebankan pekerjaan kebersihan penjara, Yusuf menjalankannya dengan tekun. Akhirnya dia justru jadi orang kepercayaan sipir.

Malam demi malam dalam penjara yang gelap itu berlalu, dan Yusuf mengembangkan hubungan yang luar biasa dengan Tuhan, sahabatnya. Secara ajaib ia mulai mengenal suara Tuhan dan memiliki hubungan yang mendalam denganNya. Tuhan makin nyata dan bagi pemuda usia dua puluhan itu.

Kesempatan untuk bebas kembali terbuka ketika ia berkenalan dengan juru minuman raja, yang ia tafsirkan mimpinya. Namun kembali ia dikecewakan karena juru minuman raja itu ternyata lupa padanya. Yusuf masih harus menghabiskan hari-harinya di penjara tanpa tahu kapan ia bisa bebas dari tuduhan atas kejahatan yang tidak ia lakukan.

Namun memang tidak terselami cara kerja Tuhan. Setelah lewat beberapa masa, kali ini Firaun sendiri yang bermimpi tanpa ada yang dapat menafsirkan. Dan kali ini pula juru minuman teringat pada Yusuf. Yusuf dipanggil dari penjara, dan dengan tepat ia menafsirkan mimpi Firaun. Firaun begitu terkesan dengan hikmat Yusuf yang supernatural, sehingga ia – pada saat itu juga – menjadikan Yusuf orang kedua dalam kerajaannya, yang berkuasa atas seluruh Mesir, negara adikuasa dunia kala itu.

Hari itu Yusuf kembali datang ke hadapan Tuhan dengan perasaan yang menggelora. Ia kehilangan kata-kata. Setelah belasan tahun yang penuh kepahitan dalam hidupnya, hari itu ia menjadi orang paling berkuasa di Mesir (baca: dunia). Seluruh dunia ada di bawah kendalinya. Mesir bahkan akan menjadi sumber pangan dunia, karena seluruh dunia akan menderita kelaparan, kecuali Mesir. Dan usianya baru tiga puluh tahun!

Yusuf memiliki kesempatan untuk membalas dendam pada semua orang yang menyakitinya. Bila perlu, ia bisa memerintahkan Potifar dan isterinya dihukum mati; memerintahkan tentara mencari kakak-kakaknya dan membunuh mereka; memerintahkan supaya juru minuman raja dihukum karena melupakannya.

Tapi pemuda yang tiga belas tahun lalu adalah anak manja yang egois sekarang sudah berubah menjadi pria dewasa yang bijak dan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Dan ketika ia sujud berdoa kepada Tuhan, hatinya dipenuhi ucapan syukur, kasih dan pengampunan. Bila ia tidak dijual oleh saudara-saudaranya, ia tidak akan sampai ke Mesir. Bila nyonya Potifar tidak memfitnahnya, ia tidak akan bertemu juru minuman di penjara. Dan ia tidak akan memiliki kesempatan bertemu Firaun.

Ketika akhirnya ia bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, sebuah kalimat yang luar biasa terucap dari mulutnya.

“Kamu merencanakan kejahatan terhadap aku, tapi Allah merencanakannya untuk kebaikan: yaitu untuk memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

Dari anak yang hanya memikirkan aku, Yusuf sama sekali melupakan egonya dan melihat dirinya sebagai bagian kecil dari rencana yang besar. Selama tiga belas tahun, Tuhan menggodok karakter pemuda itu sehingga sifat manja dan kesombongannya sama sekali hilang. Yusuf yang dulu telah dibunuh ketika ia dilemparkan ke dalam sumur; Yusuf yang baru telah lahir lewat malam-malam yang sulit dan penuh air mata.

Seperti kata soundtrack film tentang Yusuf ini (kalo ga salah judulnya Joseph: King of Dreams):

“I’ve let go the need to know why, for You know better than I.”

Di manapun kamu berada, kuatlah. Tuhan tau apa yang Dia lakukan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s