Produk VS Buah

Pernahkah pembaca merasa sulit sekali buat jadi orang baik? CS Lewis bilang, kita ga sadar betapa buruknya diri kita sampai kita berusaha untuk menjadi baik. Dan ga usah jauh-jauh lah, saya juga merasa begitu kok. Alangkah susahnya jadi orang baik, jadi orang yang memenuhi tuntutan-tuntutan hukum, jadi pelaku Firman Tuhan. Terlalu banyak kelemahan dalam diri sendiri.

Tapi hari ini aku belajar sesuatu yang luar biasa, dan aku pengen bagi ke pembaca sekalian. Waktu aku belajar hal ini, aku mengalami apa yang dibilang Tuhan Yesus: “Bila kamu tinggal dalam firmanKu, kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Seringkali kita salah persepsi dalam menerjemahkan ‘menjadi baik’. Yang kita maksud dengan frase itu sebenarnya adalah ‘tidak menjadi jahat’. Kita mengejar kebaikan negatif, yaitu menghindari tindakan yang salah. Hidup dipagari oleh berbagai peraturan, seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada masa Yesus yang legalis. Yang nempel di pikiran kita adalah ‘jangan begini, jangan begitu, jangan ini, jangan itu’. Jangan, jangan, dan jangan.

Tapi benarkah itu yang Tuhan maksud dalam hidup kita? Ketika Paulus membicarakan buah-buah Roh, yang demikiankah yang dia maksud? Ketika Tuhan Yesus bilang kita adalah garam dunia, itukah yang Dia maksud?

Kalo kita pikir Allah menghendaki produk dari diri kita, kalo kita pikir kita harus membohongi diri kita sendiri untuk menyenangkan Dia, maka kita sudah salah. Tuhan bukan mencari mesin untuk memproduksi kebaikan.

Coba perhatikan bahwa Alkitab berkata bahwa yang dihasilkan adalah buah, dan bukan produk. Buah itu dihasilkan oleh sesuatu yang hidup, bukan oleh benda mati. Allah tidak menghendaki produk dari benda mati, melainkan buah dari organisme yang hidup. Dalam kitab Mazmur pasal 1, orang yang mengasihi Tuhan diumpamakan sebagai pohon yang berada di tepi aliran air, yang tidak pernah layu daunnya, yang menghasilkan buah. Itulah yang Allah kehendaki; bukannya mesin-mesin yang tidak berperasaan yang menghasilkan produk.

Dan bagaimana menjadi pribadi yang berbuah? Alkitab berkata bahwa kita, manusia, telah mati karena dosa. Namun Roh Tuhan menghidupkan kita. Dan Roh Kudus itulah yang memperbaharui kita menjadi manusia-manusia Allah – orang-orang yang hidupnya berkenan kepada Allah. Ketika kita memiliki hubungan yang baik dan teguh dengan Sang Pokok Anggur, kita akan melihat hidup kita berbuah – bukan karena usaha kita, namun oleh anugerah Tuhan. Kehidupan Allah mengalir dalam hidup kita, dan perbuatan kita mencerminkan perbuatanNya.

Buah, tidak seperti produk buatan, adalah sesuatu yang berguna bagi kesehatan. Dunia ini sakit dan membutuhkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan orang-orang yang menguasai diri. Orang-orang di sekitar kita mencari itu semua. Dari diri kita sendiri, kita tidak bisa menghasilkan buah-buah itu; hanya Roh Tuhan yang membawa kehidupan dalam diri kita yang bisa. Kehidupan kita berasal dari Roh Tuhan, karena itu semua poin tersebut dinamakan buah Roh.

Jadi pertanyaan terakhir yang merupakan refleksi bagi kita, adakah kita hidup? Adakah kita melekat pada Pokok Anggur yang menghidupkan itu – yaitu Yesus sendiri? Sudahkah kita mengalami kuasa Roh Tuhan yang menghidupkan kita, orang-orang yang telah mati karena dosa? Apakah hidup kita sehari-hari dikuasai oleh Roh Allah itu? Bila ya, maka kita ga perlu kuatir: buah-buah Roh itu akan muncul dalam hidup kita; karena kita bukan mesin yang mati, namun manusia-manusia Allah yang hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s