Jatuh

Baru aja ada kejadian kecil nan mengesalkan. Masalah yang sepele banget, tapi bikin aku ngomong kata yang uda bertahun-tahun ga aku ucapin ke orang lain: “Goblok!”

Dan waktu aku ga bisa menahan diri buat ngomong kata itu – aku bukan keceplosan; aku sadar dalam pikiranku bahwa aku salah kalo aku ngomong begitu, tapi toh aku omongin juga – aku sadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan aku. Sesuatu yang sungguh-sungguh salah, karena bukan naturku ngomong begitu ke orang.

Kalo diusut lebih ke belakang lagi, sejujurnya aku tau apa yang bikin aku smp begitu. Uda beberapa hari ini aku ga punya hubungan yang berkualitas sama Tuhan. Satu demi satu kejadian dan kesalahan bikin aku makin sadar bahwa aku harus segera balik ke Dia. Tapi kejadian hari inilah yang bikin aku sadar sesadar-sadarnya bahwa aku ga bisa begini terus.

I can fake myself in front of people. Buat orang seperti aku, ga susah buat pake topeng di hadapan orang. Tapi aku ga bisa sok baik terus – aku ga jujur sama diri sendiri. Pelan-pelan aku jadi ga enjoy sama hidupku sendiri; dan itu jelas indikator bahwa ada masalah yang harus diberesin.

Kapan kita jatuh dalam dosa? Bukan waktu kita lagi deket-deketnya sama Tuhan, tapi waktu kita jauh – ato tepatnya menjauhkan diri – dari Dia. Rasa-rasanya itulah akar semua kesalahan yang kita lakukan. Orang awam aja tau: dosa, kebalikannya adalah, mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tapi kecenderungan orang berdosa adalah melarikan diri dari hadapan Tuhan, bukan? Jadi kalo sampe hari ini pembaca lagi lari dari hadapan Tuhan, itu langkah yang salah. Pemazmur bilang, “Ke manakah aku dapat pergi menjauhi RohMu, Tuhan?” Kata-katanya itu betul. Tuhan tidak terbatas dan tidak bisa dihindari. Satu-satunya jalan adalah menuju Dia dan Dia lagi.

Dan kalo hari ini pembaca, seperti aku, lagi ada di hadapan Tuhan dengan hati yang penuh penyesalan dan berkata, “Tuhan, aku minta maaf,” maka sadarilah bahwa hanya karena anugerah Tuhan, kita yang berdosa ini bisa memiliki keinginan untuk datang kepada Dia. Bukan karena kita mau – sebab sebenarnya kecenderungan kita adalah lari dari Dia – tapi karena Dia yang mau membereskan hubunganNya dengan kita. Seperti yang berkali-kali dikatakan dalam FirmanNya: “Sebab Tuhan itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s