Sang Pemimpin

Awalnya dia percaya diri dan merasa mampu melakukan segala sesuatu. Lagipula selama hidupnya dia selalu menang, tidak ada orang yang pernah menganggap enteng kemampuannya. Tugas ini tentu juga dapat ia jalankan dengan baik.

Lalu ia mulai menyusun rencana dan menentukan strategi. Ia merekrut orang-orang terbaik di bidangnya untuk bekerja bersamanya. Dan ia begitu yakin bahwa selama masa kepemimpinannya, akan terjadi kemajuan yang luar biasa. Semua persiapan sempurna dan kesuksesan sudah di depan mata.

Namun satu demi satu masalah datang menerpanya. Apa yang ia pikir akan menjadi perjalanan yang lancar dan menguntungkan, perlahan berubah menjadi petaka. Perjalanan makin lama makin sulit dan langkah makin berat. Dan ketika ia meminta petunjuk dari Dia yang mengutusnya, tidak ada jawaban.

Dalam kebingungan dan kemarahan, ia mulai mempertanyakan kebenaran panggilannya dan semua kemampuan yang sebelumnya ia banggakan. Waktu terus berjalan dan makin banyak masalah menerpa. Hingga di satu saat ia tidak tahan dan sebuah protes terucap, “Kenapa aku diberi tugas kalau ternyata Kau tidak menyertai aku?”

“Karena kau,” jawabNya, “tidak melakukan apa yang seharusnya kaulakukan.”

Keheningan yang mencekam menerpa hatinya sementara Dia menyebutkan kesalahan yang telah dilakukannya. “Kau mempimpin dengan gada besi di tempat di mana seharusnya kau memimpin dengan tongkat gembala. Ke mana domba-dombaKu? Apa kamu lihat binatang-binatang buas yang menghancurkan kawanan mereka? Bagaimana mereka tahu jalan yang benar kalau kau tidak pernah menunjukkannya? Apakah kau bahkan tahu nama-nama mereka? Di mana tanggung jawabmu sebagai pemimpin?”

Tidak ada kata yang terucap, hanya air mata. Ya, dia telah melupakan tanggung jawabnya yang sebenarnya demi mencapai ambisinya. Domba-domba itu tercerai-berai, terluka, kelaparan, kesakitan, tanpa ada yang memperhatikan. Dan di sini dia malah marah pada Pengutusnya karena Dia tidak memenuhi keinginannya.

“Beri aku hatiMu,” doanya. Dan kali ini doa itu dijawab: semuanya tak pernah sama lagi. Sekarang ia melihat mereka seperti Dia melihat mereka. Hatinya hangat setiap kali ia bertemu dengan salah satu dari mereka dan bercakap-cakap tentang hidup, masalah, keinginan, dan harapan. Air mata begitu mudah mengalir dari dalam hati yang lembut, yang dengan tulus mengharapkan kesejahteraan mereka. Ia mulai mengasihi yang tidak dikasihi, memperhatikan yang tidak diperhatikan, dan memimpin yang tak terpimpin.

Di ujung perjalanan itu, hanya ucapan syukur yang terucap. Syukur, karena mereka yang kesepian telah mendapat rumah, mereka yang kesulitan telah mendapat jawaban, mereka yang tersesat telah menemukan jalan. Dan dia yang salah jalan, telah dikoreksi oleh Dia yang mengutusnya. Bukan prestasi yang membuat seorang pemimpin meninggalkan jejak kaki di hati orang-orang, namun seberapa jauh dia mau terlibat dalam kehidupan mereka, tertawa dan menangis bersama mereka.

*Catatan ini didedikasikan untuk seorang pemimpin yang saya kasihi dengan segenap hati. Love God, love people.🙂

6 thoughts on “Sang Pemimpin

  1. Bguss glo : )! hehehehehe been there… berasa saya banget waktu jaman2 yg kami sebut ” untung cuma sekali di hidup” hahahha😀. stuju mel?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s