Rasa Sakit Yang Perlu

Waktu aku kecil, setiap kali aku nakal, pantat selalu disabet papa dgn sabuk. Awalnya sakit sih – nangis, pastinya. Lama-lama ya ga nangis lagi karena uda biasa😐 –> nakal banget ya? :p Langganan lah, disabet sabuk, sampe aku jadi keki dan cukup dendam sama si papa.

Ada juga kejadian waktu mama tampar aku karena aku keceplosan ngomong kasar di depan dia (sungguh petaka, ngomong kasar depan orang tua – don’t try this at home!). Dan aku waktu itu adalah anak dengan harga diri tinggi sekali, lebih tinggi dari manhattan tower; jadi kalo ditampar, alangkah sebelnya!

Tapi waktu aku liat ke belakang, aku rasa aku akan lakukan hal yang sama ke anakku kalo aku jadi mereka. Orang tuaku melakukan hal yang benar waktu itu: mereka terpaksa nyakitin aku, supaya aku tau itu salah dan merugikan, dan semakin gede aku ga berbuat kesalahan yang sama lagi.

Anak kecil gampang sekali bertobat. Hajar aja satu-dua kali, biasanya mereka kapok (premis mungkin tidak berlaku bagi anak-anak dengan ‘kebutuhan hajaran lebih’, Red. :p). Mereka cepet kapok. Dan kalo mereka dibilangin: “Jangan begitu!” sampe gede mereka inget aja untuk ga berbuat begitu lagi.

Dari tadi aku ngomongin pengalaman pribadi ya.. Biar aku tambah satu lagi. Sejak kecil aku anak yang rasa ingin taunya super gede; aku selalu tanya ‘kenapa’. Jadi ceritanya, ga terima gitu kalo ditegur tanpa alasan. “Jangan main perosotan di pegangan tangga! (Oh yeah, I did that)” Glory kecil tanya, “Kenapa?” Mama bilang, “Nanti jatoh.” “Kalo jatoh emang kenapa?” aku tanya lagi. “Ya kamu bisa patah tulang lah, luka lah..” –> mama mulai males jawab. “Kenapa bisa patah tulang?” Dst – daaann.. Sampe pertanyaan terakhir itu, aku masih bertengger di pegangan tangga aja. Ckck.

Sifat itu masih ada sampe sekarang, waktu aku uda dewasa dan berurusan secara pribadi sama Tuhan. Ada kalanya aku marah karena disakiti, dan aku tanya ke Tuhan, “KENAPA??” *saking emosinya, caps lock deh*.

Tidak ada jawaban.

Baru beberapa bulan, beberapa waktu, bahkan bertahun-tahun kemudian, aku lihat hasilnya: ternyata rencana Tuhan memang luar biasa indah – dan keputusanNya waktu itu utk ga jawab pertanyaanku adalah benar, karena otakku ini terlalu mini buat menampung mastermind-Nya yang luar biasa itu.

Aku disakiti waktu aku perlu disakiti. Aku dikoreksi waktu perlu dikoreksi. Aku dihajar waktu perlu dihajar. Dan semuanya – bener-bener semuanya – mendatangkan kebaikan. Sungguh-sungguh baik, di tangan Tuhan, sampe aku ga kebayang betapa jeleknya hidupku sekarang kalo aku ikutin rencanaku sendiri.

Suatu kali waktu aku masih kecil, mama marah banget karena aku bikin salah. Dan setelah marahin kami (aku dan adik), tau-tau dia nangis. Seumur-umur aku ga pernah liat mama nangis, jadi aku panik banget waktu itu. “Kenapa, ma..?” aku tanya dengan kuatir. Jawabnya, “Mama sedih karena kamu bandel.”

Sekarang aku tau bahwa Tuhan bukan dengan senang hati menghajar dan menyakiti aku. Bapa di sorga bukan pribadi yang bengis dan seneng kalo aku susah. Seperti orang tua yang seringkali dengan air mata terpaksa menghukum dan menyakiti anaknya, Bapa di sorga seringkali terpaksa mengambil tindakan keras karena ketidaktaatan kita.

Dan kalaupun kita ada di posisi orang yang harus melakukan tindakan menyakitkan supaya orang lain bertobat, aku sangat berharap kita punya hati yang sama seperti Yesus: menegur, menyakiti, dengan tujuan bukan melampiaskan emosi, melainkan supaya orang yang terkasih itu berubah. Seperti yang Dia sendiri katakan:

“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” – Wahyu 3:19

2 thoughts on “Rasa Sakit Yang Perlu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s