Menyikapi Pelayanan

Kalo latian musik, doa setelah selesai latihan kadang bunyinya begini: “Tuhan, segala kekurangan kami selama latihan, biar Tuhan sempurnakan.” Kedengerannya rohani gitu.. Tapi sebenarnya ada maksud apa dibalik doa seperti itu? Jangan-jangan latian belom mantep tapi uda harus pelayanan, jadinya ‘kewajiban terakhir’ dilimpahkan ke Tuhan..?

Dipikir-pikir, banyak banget orang kristen bersikap semaunya sama Tuhan. Selain kasus latihan itu, bisa juga dicontohkan dalam mempersiapkan acara, misalnya. Acara KKR, harus cari dana, tapi males-malesan cari dananya, jadi menjelang hari H dana masih kurang banyak. Terus doanya ya mirip-mirip: “Tuhan, cukupkan kebutuhan dana kami..!”

Sebenernya, siapa sih, Tuhan itu? Pertanyaan ini terpaksa dilontarkan mengingat begitu banyak orang bersikap seolah-olah merekalah Tuhannya dan Tuhanlah hamba mereka. Tuhan disuruh menambal lobang yang mereka buat; Tuhan diminta membuat mujizat supaya latihan yang masih amburadul diberesin waktu manggung; Tuhan disuruh kirim uang buat menutup kebutuhan dana yang ga ketutup karena panitia malas. Bukannya Tuhan ga mampu berbuat itu semua; tapi permintaan seperti itu cuma menunjukkan betapa kurang ajarnya manusia bersikap terhadap Pencipta mereka.

Aku sendiri pernah kok, berdoa seperti itu juga. Dan waktu aku doa begitu, aku berdoa dengan merasa bersalah dan malu.. Tapi karena ga tau lagi harus gimana, ya aku tebelin muka buat datang ke hadapan Tuhan. Istilah ‘tahta kasih karunia’ yang disebutkan dalam kitab Ibrani itu sungguh benar, karena memang Tuhan penuh kemurahan hati. Tapi itu ga mengurangi rasa bersalah dan malu aku, sampai akhirnya aku bertekad bahwa aku harus lakukan usaha sekeras mungkin sebelum aku bilang ke Tuhan, “Aku sudah pake smua sumber daya yang aku punya, Tuhan, dan tetep ga bisa. Tolong aku, Tuhan..”

Akar dari masalah seperti ini mungkin adalah banyak orang merasa Tuhan berutang budi karena mereka uda mau melayani Tuhan. Ups, kata ‘melayani’ mungkin ga cocok. Orang seperti itu adalah tipe pegawai upahan, yang merasa majikan mereka punya kewajiban tertentu terhadap mereka.

Padahal kalo liat di Alkitab, sama sekali ga ada konsep itu. Tuhan adalah tuan, dan kita adalah hamba – orang-orang yang ga punya hak apa-apa sama sekali. Dan kalo Tuhan yang besar dan menguasai hidup kita itu mau memberikan nyawaNya untuk keselamatan kita, itu sungguh anugerah yang terlalu besar! Sekarang kita tidak lagi melayani tuan yang asing, melainkan seperti anak melayani Bapa dengan penuh kasih dan pengabdian.

Ada sebuah lagu yang berkata: “MelayaniMu, Tuhan, adalah suatu kehormatan di dalam hidupku, setiap waktu.” Betapa luar biasa! Setiap orang yang diberi kesempatan melayani Tuhan sudah sepatutnya sadar bahwa boleh melayani dan bersusah payah bagi Tuhan adalah suatu kehormatan yang tiada tara. Bukan Tuhan yang ngutang ke kita karena kita sudah melakukan sesuatu buat Dia – justru kita yang mendapat belas kasihan sehingga bisa melayani Dia, dan merupakan kewajiban kita untuk melayani Dia sebaik mungkin.

Semakin kita kenal Tuhan, semakin kita sadar bahwa Dia sungguh telah bermurah hati dengan sekedar mengizinkan kita melayani Dia. Tiap kali mikir betapa baiknya Tuhan, hati rasanya sesak dengan ucapan syukur dan aku sadar betapa aku harus kasih yang terbaik – bener-bener yang terbaik – buat Dia. Semoga di akhir hidup nanti aku bisa denger kata-kata yang luar biasa itu: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang baik dan setia. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu.”

Sungguh suatu kehormatan besar kalo kita bisa melayani Tuhan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s