Belajar Gagal

Gimana menurut pembaca: apakah gagal juga perlu dipelajari?😀

Kegagalan adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh siapapun. Aku berkeyakinan ga ada orang yang memulai sesuatu dengan berharap, “Moga-moga aku gagal!” Yang bener aja. Ngapain mulai kalo sengaja mau gagal? Nah, asumsiku di atas bisa diperdebatkan – walaupun ga perlu – tapi yang penting adalah bahwa kegagalan pada umumnya tidak diinginkan oleh satupun dari kita.

Masalahnya adalah, kenapa aku kasi judul catatan ini “Belajar Gagal”? Karena aku belajar bahwa untuk gagal dengan sukses pun perlu pembelajaran. Apa maksudnya “gagal dengan sukses”? Yaitu gagal yang memang sesuai dengan keperluan kita.

Okelah, biar ga muter-muter dan membingungkan, aku kasi contoh. Aku ingett banget dua tahun lalu aku merasa gagal. Waktu aku diberi kepercayaan buat memimpin, aku merasa gagal total; ga ada rencana yang berjalan sebagaimana mestinya, orang-orang yang harusnya dukung malah jadi musuh, aku merasa banyak bikin kesalahan – ya pokoknya gagal lah ya. Secara prestasi, anjlok banget, dan aku sungguh malu dan kesel sama diri sendiri.

Tapi hari ini, kalo aku liat ke masa-masa itu, hmmm, ternyata bukan kegagalan juga. Maksudku, memang waktu itu aku perlu belajar itu semua, karena aku dulu sombong dan merasa bisa segalanya; ternyata Tuhan ajar lewat banyak hal bahwa aku 100% sekedar kacungNya dan harus kerja sesuai cara kerja yang Dia mau. Jadi itu yang aku maksud “gagal yang sukses”. Menurut aku gagal, tapi sebenernya sebuah kesuksesan..😀

Ketika murid-murid Yesus disuruh Yesus menyeberangi danau dan Yesusnya sendiri ada di dalam perahu, mereka menghadapi badai. Nelayan profesional, 30 tahun bergelut dengan danau, akhirnya takluk juga sama keganasan alam. Suatu hal yang aneh, mengingat mereka pasti bukan sekali itu aja menghadapi badai. Tapi sebuah kenyataan harus dihadapi: mereka kehilangan kendali atas kapal yang harusnya mereka kendalikan.

Dan seruan mereka adalah: “Guru! Engkau tidak peduli jika kita binasa??” Jelas banget bahwa mereka berpikir bahwa Yesus harusnya bantu mereka, Yesus harusnya bangun dan do something to save the day! Yesus harusnya begini dan begitu; bantu kluarin air danau yang masuk ke perahu kek, apa kek, yang jelas bukan malah tidur. Bantuin dong! Yesus yang nyuruh nyebrang, kok sekarang Dia malah cuek??

Persis itulah yang aku alami waktu masa-masa belajar gagal. Aku jengkel setengah idup terhadap Dia dan aku bilang, “Tuhan, buat apa suruh aku kalo akhirnya cuma ditinggal di tengah jalan?? Buat apa kasi aku tugas yang ga bisa aku laksanakan? Kok semuanya gagal dan Tuhan diem aja? Kenapa Tuhan bersikap begini terhadap aku??”

Dan kemudian Yesus bangun, berdiri menantang badai, dan berseru: “Diam! Tenanglah!” Lalu danau itu pun menjadi teduh sekali.

Dia bilang pada murid-muridNya yang tercengang – dan kepada aku juga, “Kenapa kamu begitu takut? Kenapa kamu ga percaya?”

Akhirnya aku nyampe juga di seberang danau, menyelesaikan tugas yang Dia kasi ke aku. Dan di seberang danau itu aku cuma bisa termenung dan berpikir, “Tuhan, pikiranMu memang bukan pikiranku..”

Belajar dari pengalaman itu, aku sadar bahwa Tuhan ga pernah tinggalin aku sendiri. Rencanaku boleh berantakan, tapi justru ketika rencana itu berantakan aku harus berbesar hati, karena itu berarti pasti sekarang aku lagi dalam rencana Tuhan. Oh ya! Hidupku ada dalam tanganNya, dan seberapapun kerasnya aku berusaha berontak dan bikin rencana ini itu, toh akhirnya akan terjadi dengan caraNya.

Tuhanlah yang menentukan standar kesuksesan. Rencanaku gagal, tapi aku sukses belajar kerendahan hati. Apa yang aku inginkan ga terpenuhi, tapi aku sukses belajar (lagi) makna penyerahan diri. Aku mengharapkan sebuah perjalanan yang mulus sampai ke tujuan, tapi yang aku dapat adalah badai yang penuh makna. Seandainya perjalanan Yesus dan murid-muridNya tidak mengalami badai, kisah luar biasa itu ga akan pernah ada. Justru kegagalan itulah yang membuat namaNya harum dan segala kemuliaan kembali pada Dia.

Mungkin aku harus belajar lagi – sepertinya sih begitu. Dan akan ada lagi postingan blog tentang kegagalan kembali :p Untungnya sekarang, setelah dulu Dia pukul aku dengan kegagalan, aku belajar buat percaya dan bersyukur bahwa.. ke manapun aku berusaha lari dengan jalanku sendiri, aku ga akan pernah berhasil berjalan di luar rencanaNya yang luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s