Memikirkan Dia (Bagian Kedua)

*Berasa gaya gt pake bagian pertama n kedua sgala, pdhl di blog sndiri ;p

Balik lagi ke masalah martir. Kalo memang setiap kita pny tendensi buat mengasihani diri sendiri, gimana dong mengatasinya? Bisakah kita jadi orang-orang yg tidak egois, yg tidak mengasihani diri sendiri scr berlebihan?

Mengasihani diri sendiri itu seperti seorang tentara yg terluka dlm pertempuran, lalu menangisi lukanya dan tidak peduli lg pd pertempuran yg sedang berlangsung krn sibuk meratapi dirinya. Padahal Alkitab berkata, “Ikutlah menderita sbg prajurit yg baik dari Kristus Yesus,” dan, “Kepada kamu telah dikaruniakan, bukan saja utk percaya kpd Kristus, tapi jg utk menderita bagi Dia.” Jelas sekali bhw tidak ada ruang utk mengasihani diri sendiri dalam kepengikutan kita thd Tuhan.

Satu2nya cara utk bersikap tegar dan berani spt seorang prajurit adalah dgn mengalihkan pikiran kita. Kl ditelusuri, sikap mengasihani diri sendiri itu asalnya dr ego yg berlebihan. Seseorang memikirkan dirinya sndri, perasaannya sndri, keinginannya sndri, serta bagaimana lingkungannya gagal memberikan kenyamanan bagi dia. Sikap spt ini harus diobati dgn perubahan – perubahan arah pikiran kita.

Ayub pernah mengalami masalah tsb. Dia protes keras sm Tuhan waktu dia mengalami hal2 yg (sangat) tidak menyenangkan. Namun Tuhan merespon dgn kemarahan dan mencela kebodohan Ayub. Di akhir cerita, Ayub menyadari bahwa ia terlalu cepat bicara dan bereaksi berlebihan terhadap Tuhan. Dan ia tercengang akan jln pikiran Tuhan yg tidak terselami itu.

Kita tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran Tuhan. Namun bila kita mengikuti Dia dan pikiran kita hanya tertuju kepada Dia – spt yg Paulus bilang: “Yg kukehendaki adl mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dlm penderitaanNya,” – maka hal2 lain dlm hidup kita mjd kecil dibandingkan Dia – termasuk penderitaan kita. Kalau fokus hidup kita adl melakukan kehendakNya, kita cuma pny sangat sedikit waktu utk memikirkan diri sendiri. Dan kalau kita sungguh mengenal Tuhan yg baik dan setia itu, kita ga akan mengalami krisis kepribadian atau merasa ditinggalkan Tuhan.

Tuhan bukannya tdk berperasaan dan tidak mau kita berperasaan. Lihatlah Yesus di taman Getsemani. Dlm agoni yg amat sangat, Ia berdoa. Dan Bapa merespon keluhanNya dgn mengutus malaikat utk menghibur Dia. Yesus begitu ketakutan hingga Ia memberanikan diri meminta agar salib yg hrs ditanggungNya dilalukan saja. Tp Yesus tdk berlama-lama di taman itu; Ia segera bangkit setelah memastikan penundukan diriNya, dan menghadapi salib, yg merupakan penggenap misi kedatanganNya ke dunia, dgn berani.

Kita memiliki taman Getsemani kita masing2; tempat di mana kita bisa menangis dan mengeluh pd Bapa kita yg baik dan mengenal perasaan kita. Tapi seperti Yesus, kt tidak bisa berlama-lama di taman itu; kita hrs menjalani panggilan Tuhan bagi hidup kt masing2 dgn penuh keberanian – dan keberanian itu dtgnya dr Roh Kudus.

Langkah pertama bagi suatu perubahan adl kesadaran: kesadaran bhw ada yg salah dgn kita dan kita harus berubah. Seandainya di antara pembaca ada yg bermental “martir” dan menyadari kesalahannya ataupun ada yg merasa perlu berubah dr sikap egois berlebihan, bersyukurlah, krn itu berarti Tuhan masih mau berurusan dgn anda. Dan responi panggilannya itu.. Mari kita berubah.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s