Mentoring 101

Waktu kuliah, aku mulai kenal apa yg namanya mentoring. Di semester 2, aku ketemu dengan seseorang yg aku anggap mentor, dan hubungan kami berjalan baik smp sekarang. Aku belajar banyak dari dia dan sangat merasakan manfaat mentoring.

Namun dalam yg namanya hubungan, masalah ga bisa dihindari. Walaupun aku sndri ga mengalami masalah yg signifikan dlm menjalani mentoring (aku sndri di kemudian hari juga jadi mentor buat beberapa orang), aku ngliat cukup banyak orang yg salah kaprah ttg mentoring dan akhirnya kecewa lah, ngaco lah, pait lah, dst.

Catatan ini ditulis demi menghindari hal-hal yg ga perlu terjadi lagi. Sebenernya masalah dlm mentoring bisa dihindari, kalo emang kedua belah pihak (mentor dan yg dimentor a.k.a mentee) bener-bener ngerti fungsi dr hubungan ini dan bertanggung jawab atasnya.

Bagian Pertama

Syarat pertama mentoring yang baik adalah, ada pihak yang mau belajar dan ada yang mau mengajar. Sekali lagi, ada yg mau belajar dan mau mengajar. Tanpa kemauan untuk belajar dari mentee dan tanpa semangat utk mengajar dari mentor, hubungan ini ga bakal jalan.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum menjalani mentoring adalah apa sih, kebutuhan sebenarnya dari orang ini? Secara khusus, kalangan remaja dan dewasa muda perlu hati-hati dalam memperhatikan hal ini, karena kadang mereka ga bisa membedakan antara butuh teman main atau butuh mentor. Buat menghindarinya, calon mentor perlu bisa melihat, sebenernya orang ini butuh mentor atau sosok lain. Cara taunya, ya kembali lagi ke syarat awal tadi: apakah dia punya keinginan buat belajar? Apakah dia cukup dewasa untuk mengerti dalam hal apa dia perlu belajar? Kalo jawabannya adl ‘tidak’, ya dia bukan butuh mentor. Mungkin dia butuh teman main atau yang lain, tapi yg jelas bukan mentor.

Bagian Kedua

Tujuan mentoring adalah pertumbuhan, terutama bagi mentee. Dan mentor boleh berbesar hati kl dia melihat menteenya bertumbuh, dgn indikasi mentee tsb mulai cukup dewasa utk jd teladan bahkan bagi mentornya sendiri.

Mentoring antara wanita lebih sulit dikontrol karena sebagian wanita cenderung mengaburkan batasan-batasan dalam sebuah hubungan, termasuk tujuannya. Banyak wanita puas dgn punya hubungan yang akrab, dimana kebutuhan emosional mereka terpenuhi, daripada memperhatikan tujuan dr hubungan itu sendiri. Tapi bagaimanapun, mentoring harus dikembalikan pada tujuan awalnya: pertumbuhan. Dan standar keberhasilan sebuah hubungan mentoring juga adalah pertumbuhan itu.

Setiap orang yg mau terlibat dlm mentoring, baik jd mentor ataupun mentee, harus berani mengevaluasi diri sendiri dan hubungan mereka: apakah saya bertumbuh? Apakah mentee saya bertumbuh? Apakah hubungan kami sehat dan mengarah pd pertumbuhan rohani yg sehat, atau justru sebaliknya? Apakah pertumbuhan masih mjd prioritas kami?

Seandainya pertumbuhan mandeg, kita bisa kembali lagi ke bagian pertama tadi: apakah mentee punya hati yang mau diajar dan mentor bersemangat mengajar? Kalo syarat itu ga bisa dipenuhi, ada baiknya hubungan dibicarakan lagi biar jelas juntrungannya.

Bagian Ketiga

Mentoring tidak untuk selamanya.

Memang Tuhan menaruh kekekalan dlm hati manusia, dan karena itu kita punya kerinduan untuk “hidup bahagia selamanya”. Namun hubungan mentoring harus realistis. Apa yang bisa dipelajari seseorang dari orang lain sangatlah terbatas. Suatu saat, mentee perlu mencari mentor lain dan mentor perlu mencari mentee lain. Ada juga waktunya mentee mjd mentor dan meneruskan pengetahuannya.

Yg paling penting dlm menjalani hubungan apapun adalah hati yg rela. Bahkan suami isteri pun hrs rela bila salah seorang dr mereka lebih dulu dipanggil Tuhan, krn janji pernikahan mereka ditutup dengan “..sampai maut memisahkan kita.” Akhir dari sebuah hubungan adalah hal yg tidak bisa dihindari. Karena itu penting sekali bahwa dlm mentoring tidak tjd ikatan emosional yg berlebihan, apalagi sikap posesif.

Mentor perlu mengerti kapan waktunya menteenya membutuhkan orang lain lagi untuk mjd mentornya. Mentee jg perlu mengerti sejauh mana dia bisa belajar dr mentornya. Itu bisa saja jadi akhir dari mentoring, tapi bukan akhir dr persahabatan yg terbentuk selama proses mentoring.

Bayangkan mentoring seperti akademi militer: di dalamnya ada pelatih-pelatih profesional yg akan melatih calon militer dlm jangka waktu tertentu sampai dia kompeten menjadi anggota militer. Namun orang yg mau masuk ke dalamnya harus menyiapkan tekad dan semangat belajar sampai batas waktu yg ditetapkan. Tidak bertekad? Ya ga usah masuk. Demikian pula dgn mentoring. Ga mau belajar, ga mau ditegur, ga mau dibentuk? Ga perlu cari mentor. Ga bersedia sabar dan murah hati dlm menginvestasikan pengetahuan dan pengalaman bg org lain? Jangan jd mentor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s