Neraka

Sejak kecil, yang aku tau, neraka adalah lautan api. Waktu aku masih kecil banget jariku pernah kena api dan rasanya sakit sekali. Tapi itu toh ga bikin aku ketakutan mendengar frase ‘lautan api’.

Dengan kata lain, neraka tidak begitu menakutkan buat aku. Si lautan api itu, ga segitu seremnya.

Lalu aku makin besar dan aku ga mikir lagi tentang neraka. Aku bahkan ga terlalu mikir tentang Tuhan. Kata ‘neraka’ kehilangan daya ancam misterius buat aku.

Kemudian terjadilah yang berikut: aku jatuh cinta sama Tuhan. Pelan tapi pasti, Dia jadi bagian yang ga terpisahkan dari hidupku. Dia jadi tujuan dan alasan hidupku. Aku ga mungkin hidup tanpa Dia.

Neraka bukan lagi soal lautan api atau apapun bentuk fisiknya; tapi keadaannya: keterpisahan dengan Tuhan selama-lamanya.

Dan kalo mikir tentang neraka sekarang, jujur, aku bahkan ga kebayang itu tempat apa, karena di sana.. Ga ada Tuhan.

CS Lewis bilang, “Neraka adalah tempat di mana tidak ada apa-apa selain kamu, sampai kekekalan.”

Aku jadi merenungkan argumen itu. Orang-orang yang pergi ke neraka adalah mereka yang bilang ke Tuhan, “Aku ga mau tau apa-apa tentang Kamu; biar aku jalanin hidupku sendiri, Kamu jangan ikut campur.”

Dan Tuhan mengabulkan keinginan mereka – sampai kekekalan.

Manusia menyalahkan Tuhan karena ‘memasukkan’ orang-orang ke neraka. Tapi satu hal yang pasti, ga ada orang yang masuk neraka karena dipaksa; semua penghuninya ada di sana atas keinginan mereka sendiri.

Sekarang, aku terlalu sayang sama Tuhan dan membayangkan harus berpisah sama Dia selama-lamanya aja bisa bikin aku nangis.

Hidup bersama Dia, walopun di dunia yang cacat ini, uda seperti surga. Dan aku menunggu-nunggu waktu di mana kami bakal bersama selama-lamanya.

Jujur aku ga ngerti kenapa orang memilih menolak Tuhan yang mengasihi mereka dan hidup dalam kekosongan dan kesia-siaan yang ga ada habisnya, padahal itu sudah neraka di bumi.

Dan suatu hari nanti mereka yang ga mau tau apa-apa tentang ‘Tuhan-Tuhanan’ akan bener-bener terpisah dari Dia. Tuhan mengabulkan keinginan mereka.

Jiwa manusia yang selalu haus ini terus mencari dan mencari. Aku rasa kita sebenernya menyiksa diri sendiri semasa hidup. Kita mencari dalam kesia-siaan dan terus-terusan kecewa dan putus asa.

Tuhan memberikan diriNya sendiri supaya kita bebas dari kutuk yang menyedihkan itu. Dia berkorban supaya kita tidak perlu mengalami kekekalan dalam keadaan yang mengerikan. Dia merendahkan diri dan terus mendorong kita agar menerima Dia.

Dan kenapa Dia berbuat begitu? Karena Dia sayang kita. Dia tau bahwa hanya bersama Dia kita menemukan kesejatian dalam hidup dan di luar Dia tidak ada harapan.

Tapi tetep aja sebagian manusia menolak Dia dan bilang, “Aku ga mau tau tentang apa yang sudah Kamu lakukan buat aku. Ini hidupku, aku mau atur sendiri; ga usah ikut campur.”

Ketika itu terjadi, siapa yang bisa menyalahkan Tuhan dan menyebut Dia ga adil karena memberikan orang-orang itu apa yang mereka mau: suatu kekekalan tanpa Dia?

“Engkau, Tuhan, terbukti adil dalam penghakimanMu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s